Di sebuah kampung yang bernama kampung Rangel (baca : Ronggel) kumuh namun damai, dan para penduduknya cinta kedamaian. Hiduplah Alex seorang remaja yang ditinggalkan oleh kedua orangtuanya sejak usia sekolah. Untuk menyambung hidupnya, Alex membuka usahanya sendiri, yaitu tukang nasi goreng keliling.Memang namanya sedikit lebay untuk menjadi seorang tukang nasigoreng, namun apalah arti sebuah nama pikirnya. Nama itu adalah pemberian dari orangtuanya yang sudah berpulang kepada yang maha kuasa. Alex pun bangga dengan namanya sendiri. Alex yang berperawakan jangkung, kurus. Rambut nya sedikit mirip dengan Paul Mc'Cartney. Itu adalah tokoh yang paling dia idolakan. Hidung nya sedikit besar, dan kulit nya berwarna sawo matang.
Namun, perjalanan nya sebagai tukang nasigoreng, tidak semudah seperti yang dia pikirkan. Alex tidak memliki bumbu resep miliknya sendiri. Sehingga nasigoreng yang dia buat itu rasanya biasa-biasa saja. Dan Alex pun semakin putus asa, karena nasigoreng dagangannya semakin hari, semakin tidak ada pembelinya.
Hingga sampai pada suatu hari, Alex pun sudah sangat putus asa, dan sudah memilih jalan untuk mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri menggunakan tali di bawah pohon jambu di belakang kampung. Saat itu matahari sudah tenggelam, dan kampung pun mulai sepi. Maklum, berhubung kampung yang kurang penduduknya, di atas jam 20:00 itu sudah mulai sepi.
Alex sudah mempersiapkan semuanya. Dia sudah memasang tali dan sudah di siapkan untuk menggantung dirinya sendiri. Sejenak dia terdiam sambil menatap simpul tali tersebut, lalu dia duduk di bawah pohon jambu tersebut, sambil menatap langit yang tidak ada bintangnya. Hanya ada awan hitam yang keruh. Persis seperti pemikiran Alex. Yang tidak bisa lagi berangan-angan untuk meraih masa depannya menjadi tukang nasigoreng profesional.
Di saat Alex sedang merenung, terdengar ada suara orang berjalan, arahnya dari belakang pohon jambu dimana Alex sedang duduk. Di situ banyak semak-semak tinggi, jadi tidak terlihat apa itu orang atau binatang. Alex pun menegakkan duduknya, memanjangkan kepalanya, berusaha mencari tau siapa si pembuat suara berkeresak di belakangnya itu.
"Halooo, siapa ituuuu?" kata Alex kepada semak-semak.
"Saya Udin mas, saya sedang buang hajat disini" Sahut suara dari semak-semak itu.
Alex pun merasa kesal. Di saat-saat perenungannya, ada yang mengganggu dia. Alex jadi lupa tadi sedang merenungkan hal apa. Dia mencoba lagi memandang langit, mencoba lagi mengingat-ingat apa yang tadi sedang dia renungkan, namun dia tidak bisa berkonsentrasi, lantaran suara di balik semak-semak itu semakin berisik.
"Uuuuughhhhhhh....*proot*...Uuuughhhmmmppphhhhhhiiiaaaahhhh *brooooopppoooootoooot*" begitu suara Udin yang sedang bertarung melawan feces yang luar biasa kerasnya, seakan-akan bisa menyobek lubang duburnya apabila di paksakan untuk keluar.
Alex pun semakin tidak sabar dan ingin sekali marah-marah sama orang yang lagi berjuang di balik semak-semak itu, lalu dia pun berteriak kepada Udin.
"Mas ! Mas ! kalo mau buang hajat, tolong jangan berisik, saya jadi engga bisa konsentrasi Mas !!" teriak Alex.
"Lha emang nya sampeyan lagi appppaaaahhhhh *proot*" Sahut Udin.
"Saya lagi mengingat-ingat hal yang paling memalukan yang pernah saya alamin, lalu setelah saya ingat, nanti mungkin saya akan merasakan perasaan malu yang luarbiasa dan mendorong saya untuk bunuh diri !!" Jawab Alex ketus.
Mendengar jawaban Alex, Uding yang kira-kira sudah selesai buang hajat, langsung terkejut bangun, Dan tanpa membersihkan anusnya, dia langsung memakai sarung yang di ikat di perutnya yang sedikit buncit. Ternyata Udin adalah petani yang hidup di daerah sekitar situ. Udin terlihat setengah baya, dengan kumis nya yang cukup tebal menghiasi di atas bibirnya yang tebal. Rambutnya agak sedikit menipis di bagian atasnya. Udin pun berjalan perlahan ke arah Alex. Alex pun sedikit jijik karena Bapak Udin itu tidak cebok.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar